Mengukur Laba dari Bisnis Mie Ayam Ceker

November 25, 2014 by: Dipankara

miayam0912Bisnis kuliner mi ayam nampaknya bisa menjadi pundi uang jika kita menjalaninya dengan tekun. Tapi kalau masih bingung bagaimana untuk memulai, mungkin tawaran kemitraan dari Mie Ayam Ceker Cikasungka bisa dipertimbangkan.

Dudi Kuswara, pemilik Mie Ayam Ceker Cikasungka memulai usahanya sejak 2011 di Cileunyi,Jawa Barat. Tapi, Dudi baru menawarkan kemitraan pada 2012.

“Sekarang saya sudah punya 10 orang mitra di Bandung, Garut, dan Tangerang,” katanya seperti dilansir Kontan.co.id.

Di luar gerai mitra, Dudi juga memiliki sembilan gerai yang dikelola sendiri. Dengan demikian, total gerai Mie Ayam Cikasungka kini berjumlah 19.

Dudi menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket gerai cikasungka dengan biaya investasi Rp 21 juta. Mitra akan mendapatkan gerobak, peralatan masak, peralatan makan, meja dan kursi.

Menurut estimasi Dudi, mitra bisa meraup omzet Rp 25 juta-Rp 40 juta per bulan dari paket ini. Dengan laba bersih 17 persen dari omzet, mitra diprediksi balik modal dalam satu tahun.

Kedua, paket gerobak luigi dengan biaya investasi Rp 8 juta. Dari biaya itu, mitra mendapatkan gerobak, peralatan masak, dan tiga buah kursi. Dudi memperkirakan, mitra paket ini bisa mengantongi omzet Rp 7 juta-Rp 12 juta per bulan.

Dengan laba bersih 25 persen, mitra diprediksi sudah bisa balik modal setelah enam bulan menjalani usaha. Menurut Dudi, kebanyakan mitra mengambil paket gerai cikasungka karena menyasar pembeli kelas menengah.

Sementara, paket gerobak luigi ditujukan untuk kelas ekonomi bawah. Dalam kerjasama ini, mitra diwajibkan membeli bahan baku dari pusat. Dalam sebulan, biaya bahan baku mengambil porsi sekitar 50% dari omzet.

Target Dudi, tahun ini mitra Mie Ayam Ceker Cikasungka bisa bertambah minimal satu setiap bulan. Selain menu mi ayam ceker, Dudi juga menyajikan bakso dan pangsit dengan kisaran harga Rp 8.000-Rp 15.000 per porsi.

Filed under: entrepreneurship
Tags:

Leave a Reply